Sabtu, 10 Juli 2010

studi Kitab Bulughul Maram - Ibnu Hajar al-Atsqolani

BAB I

PENDAHULUAN

Kata hadits dalam bahasa Arab, secara literal, bermakna komunikasi, cerita, perbincangan; religius atau sekuler, historis atau kekinian. Di saat dipakai sebagai ajektif, kata hadits bermakna baru. Kata ini, di dalam Al-Qur’an, digunakan sebanyak dua puluh tiga kali[1].

Secara bahasa, hadits bermakna berita atau kabar. Adapun secara istilah, hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (pernyataan), sifat, keadaan, dan himmah (hasrat)[2].

Dibidang fiqih, hadits adalah sumber kedua setelah al-Qur’an, dalam penetapan hukuk-hukum fiqih dan syari’at[3]

Kitab-kitab hadis menduduki posisi penting dalam khazanah keilmuan Islam. Para ulama klasik telah mencurahkan upaya yang begitu besar untuk menghimpun hidits-hadits yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw[4]. Salah satu jenis kitab yang menduduki posisi penting dalam khazanah Islam ialah kitab Ahkam., kitab ahkam adalah kitab hadis yang menghimpun hadis-hadis yang mengandung muatan hukum, disusun juga berdasarkan sistematika fiqih, dalam makalah ini saya akan membahas sedikit tentang kitab hadits yang bercorak fiqih, yaitu kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani.


BAB II

ISI

A. Biografi

Ibnu Hajar al-Asqalani ia adalah seorang ahli hadits terkenal yang dilahirkan di Mesir pada tanggal 22 Sya’ban 773 H atau 28 Februari 1372 M. Nama lengkap Ibnu Hajar al-Asqalani adalah Abu Fadhl Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Kinani al-Asqalani asy-Syafi’i[5]

Di negara Mesir, tersebut dia tumbuh, menghafal Al-Qur’an, Al-Hawiy, Muhtashar Ibnu Hajib dan kitab lain dan kitab lain. Dengan ditemani salah seorang kerabatnay, dia melakukan perjalanan ke Makkah. Di sinilah dia mendengar dan jatuh cinta kepada hadits, sehingga akhirnya dia menyibukan diri untuk belajar ilmu hadits dari guru-guru besar di Hijaz, Suriah, Mesir, terutama dari Al-Hafidh Al-Iraqiy. Dia mengaj ilmu fiqih kepada Al-Bulqiniy, Ibnu Mulqin dan lainnya, yang mana mereka memberikan izin untuk mengajar dan melakukan fatwa. Dia belajar ilmu Ushul dan lainnya dari Al Iz bin Jumu’ah, ilmu bahasa dari Al-Majd Al-Fairuz Aabadi, ilmu tentang bangsa Arab dari Al-Ghumariy, ilmu adab dan Arudl dari Al-Badar Al-Bastakiy, ilmu menulis dari banyak guru, dan membaca sebagian Al-Qur’an dengan Qira’ah sab’ah kepada At-Tanukhuni

Dia menekuni beberapa pelajaran hingga mencapai tingkatan puncak, kemudian beralih kepada penyebaran hadis, belajar, membaca, menulis dan mengeluarkan fatwa. Diapun mendapat kehormatan menjadi hakim di beberapa negara dan kota secara sendirian selama masa yang lebih dari 21 tahun beberapa bulan, yang banyak disilingi kekuasaan global, mengajar tafsir, hadits, nasehat dan fiqh dibeberapa tempat. Dia juga berkhutbah di Al-Azhar, masjid Jami’Amr bin Amr bin Ash dan masjid lain.[6]


B. Karya-karya Ibnu Hajar

Syakhawi menyebutkan dalam kitabnya Al-Jawhar wa Ad-Durar, bahwa karangan Ibnu Hajar berjumlah 270 kitab. As-Suyuthi dalam kitabnya Nazham Al-Uqyan menyebutkan, karangannya berjumlah 198 kitab. Al-Biqa’i mengatakan karangannya berjumlah 142 kitab dan Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyfu Azh-Zhunun mengatakan, bahwa karangannya berjumlah 100 kitab[7]. Akan saya sebutkan karangan Ibnu Hajar yang berjilid-jilid.

1. Aqidah:

a. Al-Ayat An-Niran Fi Ma’rifah Al-Khawariq Wa Al-Mu’jizat.

b. Al-Bahts ‘An-Ahwal Al-Ba’tsi.

2. Ulum Al-Qur’an:

a. Al-Itqan Fi Jam’i Ahadits Fadha’il Al-Qur’an.

b. Al-Ahkam li Bayani Ma Waqa’a fi Qira’at Min Al-Ibham.

3. Ulum Al-Hadits:

a. Abdal Al-Shafiyat Min Ats-Tsaqfiyat.

b. Ithaf Al-Mahrah Bi Athraf Al’Asyrah

c. Al-Istidrak ‘Ala Al-Hafizh Al-Iraqi Fi Takhrij Ahadits Al-Ihya.

d. Al-Istidrak ‘Ala (Nakti Ibnu Shalah) Li Syaikh Al-Iraqi.

e. Athraf Ash-Shahihain ‘Ala Al-Abwab Wa Al-Masanid.

f. Athraf Al-Firdaus li Ad-Dailami.

g. Afrad Muslim ‘An Bukhari.

h. Al-Itqan Bi-Tartib Ad-Daruquthni ‘Ala Al-Anwar,

i. Tartib Al-‘Ilal ‘Ala-Anwa.

j. Taghliq At-Ta’liq Wa Huwa Yubaiyin Ma Yahtajuhu Al-Baits Min Syarh Al-Jami’ Ash-Shahih Li Al-Bukhari. Dalam kitab ini Ibnu Hajar mengambil referensi sekitar 350 kitab.


k. Taqrib At-Tahzib. Ringkasan dari kitab Tahzib At-Tahzib yang diambil dari kitab Tahzib At-Tahdzib Al-Kamal

l. Fath Al-Bari Syarh Shahih Bukhari

4. Sejarah (Tarikh):

a. Kitab Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah. Kitab ini terdiri dari 4 jilid besar, yang membicarakan biografi 12.297 orang

b. Ad-Durar Al-Kaminah fi A’yan Al-Mi’ah Ats-Tsamaniah

5. Bahasa Arab:

a. Kitab Al-Ashlah fi Al-Imamah Al-Afshah

b. Bulughul Al-Maram Min Adillah Al-Ahkam[8].

C. Sekilas Tentang Kitab Bulughul Maram

Bulughul Maram adalah kitab hadis yang ringkas. Di dalamnya termuat hukum-hukum fikih. Kitab ini pada dasarnya ditjukan sebagai tuntunan praktis dalam kehidupan umat Islam sehari-hari. Sesuai namanya, bahasan kitab ini tidak jauh dari masalah taharah, shalat, jenazah, zakat, puasa, haji, jual beli, nikah, rujuk, jinayah, jihad, makanan, sumpah dan najar, peradilan, dan pembebasan budak.

Jika dilihat dari rangkaian uraiannya, kitab ini menyajikan pembahasan yang sama persis dengan kitab-kitab fikih. Ditinjau dari segi sistematika pembahasannya, Ibnu Hajar menggunakan istilah kitab untuk menyebut tema besar. Setiap kitab membawahkan sejumlah bab[9].

Kitab Bulughul Maram ditulis dalam bingkai hukum. Penjelasan tentang kandunganmasing-masing hadis terletak dalam catatan kaki. Hal ini dilakukan oleh editor (muhaqqiq) kitab ini untuk memudahkan pembaca dalam memahami kitab hadis. Misalnya, hadis larangan tabattil (membujang/tidak menikah). Editornya memberikan penjelasan tentang sebab munculnya hadis tersebut. Menurutnya, latar belakang hadis tersebut adalah datangnya tiga orang sahabat kepada salah seorang isteri Rasulullah SAW dan bertanya tentang ibadah yang dilakukan seliau. Sebab, mereka tasyaddud (berlebihan) dalam beribadah hingga mengabaikan hal-hal manusiawi. Mendengar hal itu, beliau langsung menegur mereka dengan mengatakan, “... Barangsiapa tidak mengikuti sunnahku, ia bukan umatku.”

Kitab ini memuat 1.596 hadis. Dibanding juamlah dalam kitab-kitab hadis lain, jumlah ini tentu relatif sedikit. Karena itu, Bulughul Maram hanya dikemas dala satu jilid. Barangkali, karena kitab ini tampak ringkas dan mudah dicerna, ia banyak digemari oleh masyarakat (Islam) secara luas. Di Indonesia, kitab ini banyak digunakan oleh masyarakat pesantren.

Keinginan penulis kitab ini untuk mempermudah para pembaca tercermin dari sistem pengutipan hadisnya. Hadis-hadis yang ada dalam Bulughul Maram semua ditulis dengan sangat ringkas, tanpa menyertakan sanad (mata rantai) hadis, kecuali sanad yang sampai kepada sahabat dan makharrij al-hadis (yang mengeluarkan hadis). Pegecualian ini ditujukan untuk mempermudah pengecekan hadis dalam kitab ini.

Khusus mukharij al-Hadits (orang yang mengeluarkan hadits) dalam Bulughul Maram, semua perawinya disebutkan dan sekaligus komentar atasnya. Jika meriwayatkab adakah nama-nama yang sudah ada dalam kitab shahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, maka Ibnu hajar langsung menandai dengan istilah muttafaq ‘alaih[10].

Ibnu Hajar di samping memakai istilah muttfaq ‘alaih, juga menggnakan istilah as-salasah (Hadis yang diriwayatkan Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmizi), al-arba’ah (hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, at-Tirmizi, dan Ahmad bin Hambal), as-sadis (hadis yang diriwayatkan Imam Bukhri, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, at-Tirmizi), dan as-sab’ah (hadis yang diriwayatkan Imam Bukhri, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, at-Tirmizi, dan Ahmad bin Hambal)[11]

D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan kitab ini, sebagai berikut:


1. PEMBAHASAN BERSUCI

a. Bab Air

b. Bab Bejana

c. Bab Menghilangkan Najis dan Penjelasannya

d. Bab Wudhu

e. Bab Mengusap Kedua Khuff

f. Bab Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

g. Bab Etika Buang Air

h. Bab Mandi dan Hukum Jinabah

i. Bab Tayamu

j. Bab Haid

2. PEMBAHASAN SHALAT


a. Bab Waktu-waktu Shalat

b. Bab Adzan

c. Bab Syarat-syarat Shalat

d. Bab Pembatas Orang yang Shalat

e. Bab Anjuran Khusyu’ Dalam Shalat

f. Bab Pembangunan Masjid

g. Bab Sifat Shalat

h. Bab Sujud Sahwi, Sujud Tilawah dan Sujud Syukur

i. Bab Shalat Sunnah

j. Bab Shalat Berjama’ah dan Imam

k. Bab Shalat Dalam Perjalanan dan Shalat Orang yang Sakit

l. Bab Shalat Jum’at

m. Bab Shalat Khauf

n. Bab Shalat Dua Hari Raya

o. Bab Shalat Gerhana

p. Bab Shalat Istisqa (Meminta Hujan)

Bab Pakaian

3. PEMBAHASAN JENAZAH


4. PEMBAHASAN ZAKAT
a. Bab Zakat Fitrah

c. Bab Anjuran Bersedekah

d. Bab Pengalokasian Zakat

5. PEMBAHASAN PUASA

a. Bab Puasa Sunnah dan Hari-hari yang Dilarang Berpuasa di Dalamnya.

b. Bab I’tikaf dan Qiyam Ramadhan


6. PEMBAHASAN HAJI

a. Bab Keutamaan Haji dan Orang-orang yang Difardhukan Mengerjakannya

b. Bab Miqa

c. Bab Berbagai Macam Ihram dan Gambarannya

d. Bab Ihram dan Hal-hal yang Berkaitan Dengannya

e. Bab Gambaran Ibadah Haji dan Etika Memasuki Mekah

f. Bab Terlambat dan Terkepung

7. PEMBAHASAN JUAL BELI.

a. Bab Persyaratan jual beli dan larangannya

b. Bab Khiyar

c. Bab Riba

d. Bab Kebolehan Melakukan Jual Beli ‘Araya dan Jual Beli Pohon Bersama Buahnya

e. Bab Salam (Inden), Hutang dan Gadai

f. Bab Pailit dan Penyegelan

g. Bab Shulh (Kompromi)

h. Bab Hiwalah dan Jaminan

i. Bab Perkongsian dan Perwakilan

j. Bab Pengakuan

k. Bab ‘Ariyah (Pinjaman)

l. Bab Gasab (Rampasan)

m. Bab Syuf’ah ( Penggenapan Kepemilikan)

n. Bab Qiradh (Pinjam Modal)

o. Bab Musaqah dan Ijarah

p. Bab Membuka Lahan yang Terlantar

q. Bab Wakaf

r. Bab Hibah, ‘Umra dan Ruqba

s. Bab Barang Temuan

t. Bab Faraidh (Pembagian Waris)

u. Bab Wasiat

v. Bab Barang Titipan

8. PEMBAHASAN NIKAH

a. Bab Kesetaraan dan Kebebasan Memilih

b. Bab Mempergauli Isteri

c. Bab Maskawin

d. Bab Walimah (Resepsi pernikahan)

e. Bab Membagi Giliran di Antara Para Isteri

f. Bab Khulu’

9. PEMBAHASAN TALAK

a. Bab Rujuk

b. Bab Sumpah Ilaa Zhihar dan Kifarat

c. Bab Li’an

d. Bab ‘Iddah, Berkabung, Istibra, dan lain sebagainya

e. Bab Penyusuan

f. Bab Nafkah

g. Bab Mengasuh Anak

10. PEMBAHASAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN DAN PELUKAAN

a. Bab Berbagai Macam Diat

b. Bab Tuntutan Pembunuhan dan Pembagian Sumpah

c. Bab Memerangi Pemberontak

d. Bab Memerangi Perampok Dan Menghukum Mati Orang Yang Murtad

11. PEMBAHASAN HUKUMAN HAD

a. Bab Had Zani (Orang Yang Berzina)

b. Bab Had Qadzaf (Menuduh Berbuat Zina)

c. Bab Hukuman Had Mencuri

d. Bab Had Peminum Khamar dan Penjelasan Tentang Barang yang Memabukkan

e. Bab Hukuman Ta’zir dan Hukum Perampok

12. PEMBAHASAN JIHAD

a. Bab Jizyah (Upeti) dan Gencatan Senjata

b. Bab Pacuan Kuda dan Memanah

13. PEMBAHASAN MAKANAN

a. Bab Berburu dan Sembelihan

b. Bab Berkurban

c. Bab Aqiqah

14. PEMBAHASAN SUMPAH DAN NADZAR

15. PEMBAHASAN PERADILAN

a. Bab Persaksian

b. Bab Gugatan dan Pembuktian

16. PEMBAHASAN MEMERDEKAKAN BUDAK

a. Bab Mudabbar, Mukatab dan Ummul Walad

17. PEMBAHASAN AKHLAK

a. Bab Etika

b. Bab Kebajikan dan Mempererat Persaudaraan

c. Bab Zuhud dan Wara’

d. Bab Peringatan Untuk Menghindari Akhlak Yang Buruk

e. Bab Anjuran Berakhlak Mulia

f. Bab Zikir dan Do’a

E. Contoh Hadis

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ia berkata: Bersabda Rasulallah saw,: Apabila adalah air itu dua kulah, tidaklah ia mengandung kotoran; Dikeluarkan dia oleh ,,empat”. Dan dishahkan dia oleh Ibnu Khujaimah dan Hakim dan Ibnu Hibban.

Keterangan:

  1. Air dua kulah itu menurut mazhab Syafi’i, ialah air yang memenuhi satu tempat yang lebar, panjangnya dan dalamnya, masing-masing satu seperempat hasta
  2. Tidak ada satu pun Hadis yang menetapkan ukuran dau qullah dengan satu seperempat hasta seperti yang disebut itu atau yang lainya.
  3. Maksud Hadis ini, bahwa air dua kullah itu tidaj akan jadi kotor atau jadi najis lantaran termasuk atau dimasukan padanya barang yang najs.
  4. Hadis dua kullah ini, walaupun ada yang mengesahkan sepert tersebut, tetapi lebih banyak imam-imam terkemuka yang melemahkan, lantaran sannadnya mudh-thatib, dan lantaran matannya pun mudh-tharib dan lantarna maukufnya, yakni dari Ibnu ‘Umar sendiri, bukan dari Nabi saw[12].


DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari. penerjemah, Gazirah Abdi Ummah. Jakarta: Pustaka Azzam. 2002.

. Bulughul Maram. terjemah Indonesia. Bandung: CV.Diponegoro. 1993.

Azami, Muhammad Mustafa. Metodelogi Kritik Hadits. Bandung: Pustaka Hidayah.1996.

Dzulmani. Mengenal Kitab-kitab Hadis. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. 2008.

Qardhawi, Yusuf . Bagaimana Memahami Hadits Nabi Saw. Bandung: Karisma. 1997.

Salim, Abdurrasyid Abdul Aziz. Syarah Bulughul Maram. Surabaya: Halim Jaya. 2005.



[1] Muhammad Mustafa ‘Azami, Metodelogi Kritik Hadits,(Bandung: Pustaka Hidayah.1996), h. 17

[2] Dzulmani, Mengenal Kitab-kitab Hadis,(Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), h. 1

[3] Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadits Nabi Saw,(Bandung: Karisma, 1997), h. 46

[4] Op, Cit., h. 23

[5] Ibid., h. 185

[6] Abdurrasyid Abdul Aziz Salim, Syarah Bulughul Maram,(Surabaya: Halim Jaya, 2005), h. 15

[7] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari, penerjemah, Gazirah Abdi Ummah,(Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), h. 4

[8] Ibid., h. 4-5

[9] Op. Cit., Dzulmani. H.187

[10] Ibid., h. 191-192

[11] Ibid., h. 192

[12]Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, terjemah Indonesia(Bandung: CV.Diponegoro, 1993), h.41.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar